Karakter Jujur dalam Bingkai Ramadhan

Ramadhan sebagai Momentum Mendidik Karakter (10): Jujur

Oleh Muhammad Yunus

Muhammad Yunus. BAKAK UNISMA

Setelah sebelumnya dijelaskan tentang nilai-nilai spiritualitas, kali ini akan dikaji tentang nilai-nilai kejujuran atau jujur. Spiritualitas merupakan nilai karakter dalam hubungannya dengan Tuhan Yang Maha Esa, sementara jujur merupakan nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri. Nilai karakter yang berhubungan dengan diri sendiri ini meliputi 11 nilai karakter sesuai dengan penjelasan Kemendiknas (2010) dan Peraturan Pemerintah No. 87 tentang PPK. Kesebelas karakter tersebut adalah jujur, tanggung jawab, gaya hidup sehat, disiplin, kerja keras, percaya diri, berjiwa wirausaha, berpikir logis, kritis, kreatif, dan inovatif, mandiri, ingin tahu, dan cinta ilmu.

 

Kaitannya dengan nilai karakter dalam hubungannya dengan diri sendiri, nilai kejujuran adalah utama dan pertama. Jujur dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) diartikan lurus hati, tidak berbohong (berkata apa katanya), tidak curang dalam permainan, dalam menjalankan aturan. Dari arti kata jujur menurut KBBI ini dapat dimaknai upaya manusia untuk menjadikan dirinya sebagai orang yang selalu dapat dipercaya dalam perkataan (tidak suka berbohong), tindakan (tidak curang), dan pekerjaan (tidak korupsi waktu, uang) baik terhadap dirinya maupun terhadap orang lain.

 

Dalam pandangan Islam, sifat jujur atau karakter jujur ini sangatlah penting. Kesungguhan untuk menyampaikan kondisi yang sebenarnya adalah sifat orang terpuji. Wajar jika seluruh Nabi dan Rosul Allah harus mempunyai sifat wajib jujur ini. Meskipun pahit apa yang harus disampaikan maka sebagai seorang yang jujur harus sabar untuk menyampaikan. Begitu juga dengan seorang ilmuawan atau peneliti, sikap jujur harus ada pada dirinya. Seluruh profesipun harus memiliki sifat jujur dalam dirinya. Bayangkan apa yang akan terjadi jika seorang peneliti menyampaikan hasil yang tidak sesuai dengan kenyataan. Seorang dokter yang tidak menyampaikan yang sesungguhnya, maka semua akan berdampak buruk.

 

Dalam sistem organisasi, perilaku jujur mutlak dibutuhkan. Pemimpin yang jujur, bawahan yang jujur akan berdampak terhadap kemajuan organisasi itu. Sebaliknya perilku tidak jujur, suka berbohong, baik oleh pimpinan atau bawahan maka akan berdampak terhadap kemunduran organisasi itu. Lihat saja bagaimana Negara-negara maju pasti dijalankan dengan organisasi yang jujur, clear clean dan terbuka. Sebaliknya Negara tidak akan maju-maju jika orang-orang didalamnya memiliki perilaku yang tidak jujur.

 

Informasi Seputar UNISMA, kunjungi BAKAK UNISMA

 

Jujur ini sangat erat kaitannya dengan keimanan seseorang. Artinya jika orang itu beriman dapat dijadikan alat ukur tingkat kejujuran seseorang. Rosul pernah ditanya oleh seorang sahabat tentang jujur ini. “Apakah mungkin seorang mukmin itu kikir?” Rasulullah menjawab: Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi: Apakah mungkin seorang mukmin bersifat pengecut?” Rasulullah menjawab: Mungkin saja.” Sahabat bertanya lagi, Apakah mungkin seorang mukmin berdusta?” Rasulullah menjawab: Tidak” (HR Imam Malik dalam kitab al Muwaththo’). Dari hadist ini jelas bahwa seorang yang beriman (mukmin) pasti dalam dirinya ada sikap kejujuran. Rasanya orang yang pinter berdusta tidak aka nada iman dalam dirinya, karena iman harus singkron antara hati, pikiran, dan ucapan. Jika dia berdusta maka tidak ada kesingkronan antara apa yang diucapkan dengan apa yang ada dalam pikiran dan hatinya. Tapi jika ia jujur maka akan terjadi singkronisasi tersebut. Jika iman pasti jujur, maka orang yang bertaqwa pasti memiliki sikap jujur dalam dirinya. Sebagaimana firman Allah SWT berikut “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kamu kepada Allah dan katakanlah perkataan yang jujur/benar” (al-Ahzab 33: 70).

 

Sebagaimana disampaikan diatas bahwa jujur itu harus terjadi pada perkataan, tindakan, dan pekerjaan. Oleh karenanya jujurpun memiliki beberapa tingkatan. Pertama, kejujuran dalam ucapan, yaitu kesesuaian ucapan dengan realitas. Kedua, kejujuran dalam perbuatan, yaitu kesesuaian antara ucapan dan perbuatan. Ketiga, kejujuran dalam niat, yaitu kejujuran tingkat tinggi di mana ucapan dan perbuatan semuanya hanya untuk Allah SWT.

 

Ramadhan yang didalamnya diwajibkan untuk berpuasa adalah sarana melatih diri untuk jujur. Jujur dalam puasa menerapkan sekaligus tiga tingkatan jujur itu. Seorang yang berpuasa jika ia diajak makan lalu menjawab “saya sedang puasa” misalnya memang benar-benar melakukan ibadah puasa. Puasa juga dianjurkan untuk tidak berdusta karena pasti akan mengurangi pahala puasanya. Puasa juga mewajibkan untuk menata niat. Jangan sampai puasa kita diniatkan tidak selain kepada Allah SWT. Niat puasa harus murni semata-mata mengharap ridha Allah SWT. Jika orang beriman pasti jujur, maka dapat dipastikan orang bertaqwapun pasti lebih jujur lagi karena iman adalah syarat berpuasa dan berpuasa mengantarkan orang menjadi orang bertaqwa. Sementara jujur sendiri adalah ciri orang-orang beriman. Oleh karenanya marilah kita jadikan momentum puasa ramadhan ini untuk meningkatkan nilai-nilai kejujuran. Karena jujur insyaAllah akan mengantarkan manusia bahagia di dunia dan di akhirat.

 

Informasi Seputar UNISMA, kunjungi BAKAK UNISMA

 

Muhammad Yunus. Dosen Pendidikan Bahasa Inggris FKIP Unisma. Kepala BAKAK UNISMA. Anggota Pengrus PW LP Maarif PWNU Jawa Timur. Alumni PP Nurul Jadid, Probolinggo.

Artikel asli dimuat di times Indonesia edisi Selasa, 19 Mei 2020

Translate »