Zoombombing Virus Daring

Melawan Zoombombing Virus Daring
Oleh Dr. Moh. Badrih, M.Pd.
(Kaprodi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA)
Tulisan Terbit di https://duta.co/melawan-zoombombing-virus-daring, Ahad, 19 April 2020 dengan judul Asli Melawan Zoombombing Virus Daring)

ISTILAH ‘zoombombing’ akhir-akhir ini menjadi perhatian pengguna daring di berbagai negara, termasuk Indonesia yang baru tren menggunakannya aplikasi ‘Zoom’. ‘Zoombombing’ merupakan serangan daring pada aplikasi ‘zoom’. Gangguan tersebut dapat berupa penyusupan orang-orang yang tidak diundang dalam berbagai kesempatan daring atau pengiriman konten-konten yang tidak dapat dipertanggungjawabkan ke dalam aplikasi pada saat kita melakukan telekonferen.

Setelah pemerintah menetapkan darurat Covid-19 dan menganjurkan untuk bekerja dari rumah, hampir semua pekerjaan dari pemerintah pusat sampai daerah bahkan pendidikan di Taman Kanak-Kanak telah beralih ke daring. Berbagai aplikasi yang kita gunakan mulai dari chatting dan video call melalui Skype, Hangout, Moodle, Zoom Cloud Meeting, Cisco Webex Meetings, Slack dan Microsoft tTams (MI, 31/3).

Aplikasi-aplikasi itu memang sangat membantu dalam mengerjakan berbagai tugas seperti musim pandemik sekarang. Namun, pernahkan kita menyadari bahwa aplikasi-aplikasi tersebut berpotensi untuk diganggu orang lain yang tidak bertanggung jawab. Selama ini kita hanya berpikir praktis dan jarang berpikir ke ranah itu. Wajar sekali jika kita tidak memikirkannya karena bisa jadi belum pernah ditemukan selam kita melakukan daring dengan orang lain.

Walaupun kasus ‘zoombombing’ saat ini terjadi pada aplikasi Zoom, tetapi kasus tersebut dapat masuk ke aplikasi daring yang lain. Gangguan ‘zoombombing’ dapat berupa teks yang bernuansa bahasa ‘sarkastik’ yang tiba-tiba munsul dalam aplikasi kita. Selain itu, ‘zoombombing’ dapat juga berupa pengiriman video-video hoaks sampai video porno yang berhasil menyelinap ke dalam telekonfren kita.

Hal ini memang meresahkan, bayangkan saja saat kita sedang melakukan rapat atau proses belajar-mengajar tiba-tiba diaplikasi kita muncul gambar yang tidak ‘senonoh’. Maka dapat dipastikan konsentrasi peserta telekonfren akan terganggu bahkan pembelajaran akan terhenti saat itu juga.

Kasus-kasus lain yang setara dengan ‘zoombombing’ ialah pencurian data kita untuk kepentingan tertentu. Meskipun ini hanya bersifat asumtif, namun berbagai kasus yang berhasil dihimpun oleh penulis dalam berbagai tulisan ialah tuduhan terhadap Zoom yang ditengarai memberikan data pribadi kepada Facebook. Hal ini sempat diberitakan (cbsnews.com/1/4) dan kompas (7/4) yang menyatakan bahwa California sedang menggugat perusahaan zoom karena tuduhan tersebut.

Zoom sebagai aplikasikasi praktis dalam pelaksanaan daring telah berusaha menghapus kode yang memungkinkan dibagikannya data kepada Facebook (Kompas, 7/4). Tentu hal ini tidak lagi menjadi kekhawatiran pengguna aplikasi Zoom. Sebagai pengguna, kita harus berhati-hati dalam menggunakan aplikasi berbagai aplikais daring, meskipun setiap aplikasi memiliki tingkat keamanan masing-masing. Hal ini bergantung kita sebagai pengguna, dapatkah menyeting dengan aman ataukah tidak.

Sekuat apapun keamanan yang telah dibuat oleh berbagai aplikasi daring, bukanlah soal yang sulit untuk meretas aplikasi tersebut. Di tangan orang-orang yang tidak bertanggung jawab, setiap aplikasi akan dicari titik kelemahannya untuk keuntungan sendiri. Keuntungan tersebut dapat bermuatan pribadi atau modus tertentu yang bermuatan politik bahkan hal yang tidak manusiawi lainnya. Kita hanya dapat menunggu dan mempelajari modus yang dilakukan mereka setelah peristiwa tersebut terjadi.

Sekelas perangkat iOS dan MacOs milik Apple yang keamanannya sangat ketat akhirnya diketahui titik lemahnya. Seperti rilis liputan6.com (7/4) peneliti keamanan Ryan Pickren telah menemukan celah keamanan milik Apple yang apabila digunakan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab dapat mengambil alih webcam dan mikrofon seketika. Hal ini memberikan gambaran pada kita bahwa perangkat software belum seratus persen memberikan ruang keamanan bagi penggunanya.

Setiap hal negatif yang dilakukan oleh oknum-oknum tertentu memiliki mudos-modus unik di belakangnya. Maka alternatifnya, kita sendirilah yang harus mendalami aplikasi tersebut dengan berbagai cara. Salah satunya ialah dengan mengikuti pelatihan aplikasi tertentu atau mengundang pakar teknologi informasi untuk memberikan pengetahuannya di lembanga atau di organisasi kita. Tanpa tanpa langkah tersebut, seakan-akan kita lihai menggunakan perangkat tertentu, tetapi pada hakikatnya pengetahuan kita masih sangat sedikit tentang aplikasi yang kita gunakan.

Saat ini kita belum menyadari tentang bahaya aplikasi apabila diretas oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Di masa yang akan datang, saat kita telah ‘melek’ aplikasi teknologi secara komprehensif kita akan mengetahui kerugian kita saat diretas dan keuntungan finansial para peretas cyber. Diakui ataukah tidak, rumus penggunaan aplikasi yang kita gunakan saat ini adalah rumus ‘taklik abstrak’. Rumus ‘taklik abstrak’ sekedar mengikuti teman sejawat kita karena menggunakan aplikasi tertentu atau sekedar mengikuti saran pimpinan kita untuk menggunakan aplikasi tertentu pula.

Sekarang dan yang akan datang sudah waktunya generasi muda untuk memiliki interdisipliner ilmu. Teknologi informasi sebagai ilmu wajib yang harus diketahui untuk kemajuaan anak bangsa. Apakah selamanya kita akan menjadi konsumsi teknologi informasi ataukah tidak. Lantas kapan kita akan menciptakannya sendiri dengan ilmu yang kita miliki. Bukankah anak-anak bangsa banyak ahli di bidang ini. Tanpa adanya kreasi oleh generasi muda Indonesia sendiri, kita hanya menjadi pengguna ‘second’ dari aplikasi yang mereka buat dan sewaktu-waktu jika mereka ingin merusaknya tidaklah sulit.

Dengan demikian, aplikasi buatan anak negeri yang tingkat keamanannya mumpuni sangatlah diperlukan. Bukanlah dalam cerita klasik Jawa “Tutur Tinular” seorang Mpu Ranubaya sebagai seorang pandai besi memiliki kehebatan melebihi para Mpu dari China sehingga Mpu Ranubaya diculik dan dipaksa membuat kering yang super hebat di Negeri tersebut. Analogi ini bermakna bahwa kita sebenarnya memiliki kemampuan untuk membuat berbagai aplikasi daring yang jauh lebih hebat dari ciptaan mereka, namun hal ini jarang dibuktikan. Gengerasi sekarang yang enggan membuat ataukah gerak dan kreativitas mereka terbatas karena terbentur kebijakan. Inilah masalah klasik yang kita hadapi dulu, sekarang, dan yang akan datang.

Dua belas aplikasi yang luar biasa telah dibuat oleh anak Negeri dalam bidang pembelajaran. Aplikasi-aplikasi tersebut saat ini tengah bekerja sama dengan Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan untuk mencerdasan anak-anak bangsa. Seperti yang dirilis Kompas (22/3/’20) aplikasi tersebut, yaitu Rumah Belaajar, Meja Kita, Icando, IndonesiaX, Google for Education, Kelas Pintar, Microsoft Office 365, Qipper School, Ruang Guru, Sekolahmu, Zenius, dan Cisco Webex.

Aplikasi-aplikasi tersebut sangat menunjang kebutuhan anak-anak kita yang tengah belajar. Namun, mengingat berbagai kebutuhan untuk sebuah negara yang maju, sangatlah dibutuhkan berbagai aplikasi daring untuk menunjang berbagai kebutuhan diberbagai sektor. Aplikasi-aplikasi yang tahan terhadap virus dan serangan malware tetap menjadi prioritas utama karena saat aplikasi tersebut digunakan data-data yang terdapat di dalamnya adalah kekayaan kita yang harus dipertahankan dari ‘zoombombing’.

Langkah yang paling praktis untuk mengamankan data-data kita dari serangan ‘zoombombing’ ialah memilih aplikasi berbayar yang menjamin keamanan pengguna. Selain itu, pengetahuan secara komprehensif dan penyetingan pengamanan sebelum menggunakan aplikasi tersebut tetap menjadi perhatian pengguna secara khusus. Semoga kita tetap diberi kemudahan dan keamanan dalam memanfaatkan aplikasi daring dalam berbagai keperluan terutama di bidang pendidikan.

* Penulis adalah Doktor Pendidikan Bahasa dan Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Islam Malang (FKIP UNISMA).

Translate »