TEMBANG SUFI MANTIQUT THOIR-12 SETETES EMBUN IDUL FITRI

TEMBANG SUFI MANTIQUT THOIR-12 SETETES EMBUN IDUL FITRI

Moh Badrih BAKAK UNISMA
Moh Badrih BAKAK UNISMA

Akhirnya hari yang telah kita tunggu-tunggu telah tiba. Hari yang menjadi momentum mekarnya puasa setelah satu bulan lamanya menguncup dipangkuan Ramadhan. Hari yang menjadi kemenangan kita saat memerangi berbagai godaan hawa nafsu yang dapat membatalkan kefitrahan kita sebagai orang-orang yang beriman. Selama satu bulan kita telah berjihad untuk melawan rasa lapar, haus, dan bangun di tengah malam untuk melawan rasa kantuk yang tak terhingga. Semua itu telah kita ikhtiarkan semata-mata karena Allah.

Setelah kemenangan tersebut diraih dan dirayakan sedemikian bersama, bagaimanakah selanjutnya. Apakah ikhtiar kita memerangi hawa nafsu berhenti setelah melaksanakan sholat Idul Fitri. Semuanya bergantung kita sendiri sebagai orang muslim sejati. Apabila kita merefleksi ikhtiar ibadah kita selama bulan Ramadhan, kita akan mengetahui bahwa semua hal yang kita lakukan di bulan tersebut adalah bentuk penyucian lahir dan batin. Puasa, sholat, dzikir, zakat, dan sedekah kita adalah proses untuk membersihkan jiwa.

Selama kita melakukan ikhtiar pembersihan jiwa raga ini, tidak ada yang tahu tingkat keihklaskan dan kepasrahan yang kita lakukan kecuali kita sendiri dan Allah. Keikhlasan kita adalah pintu gerbang utama untuk diterimanya semua amal-amal kita. Tanpa hal tersebut maka semuanya akan menjadi sia-sia.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Selama kita melakkukan ibadah, kita hanya diberi hak untuk meyakini berbagai ibadah yang telah kita lakukan, selanjutnya kita harus pasrah. Maka, setelah semuanya tuntas, kita mendapatkan predikat dari Allah yaitu hamba yang mendapatkan kefitrahan dan kembali suci seperti bayi yang baru lahir. Lantas, apakah predikat ini betul-betul sebagai puncak ataukah sebagai pintu awal untuk ibadah selanjutnya. Seberapa lama kita dapat mempertahankan kefitrahan tersebut, dan apakah kita tidak akan mendapatkan kefitrahan setelah bulan Ramadhan. Hal inilah yang saya sebut sebagai “Setetes Embun Idul Fitri”.

Pada intinya, predikat fitrah yang telah disandangkan kepada kita merupakan pemberian Allah dari hasil ibadah selama sebulan penuh. Namun, predikat ini bukanlah puncak dari segala predikat, melainkan sebagai bekal ibadah selama sebelas bulan kedepan. Bentuk ibadah yang kita lakukan selama Ramadhan hanyalah mikro ibadah yang dapat kita implementasikan pada bulan-bulan berikutnya setelah Ramadhan. Oleh karena itu, jika tujuan dari ibadah puasa adalah membentuk jiwa-jiwa yang muttaqin, maka, orang-orang yang muttaqin adalah orang yang tidak sekedar menjadikan Ramadhan sebagai sebuah titik melainkan orang yang dapat mengubah sebelas bulan berikutnya sebagai bulan Ramadhan.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Tidak ada amalan yang berkurang karenanya, baik dari sisi kualitas atapun kuantitas. Orang yang seperti ini adalah orang-orang yang senantiasa berikhtiar untuk mempertahankan sekaligus memelihara predikat kefitrahan. Bagianya, predikat tersebut adalah pintu gerbang untuk semakin mendekatkan diri kepada Allah baik siang ataupun malam. Dalam kondisi terjaga ataupun sedang tidur. Orang-orang yang seperti ini dapat menjadikan seluruh ruang dan tempat ibadah seperti hamparan sejadah panjang untuk senantiasa bersujud secara lahir dan batin.

Orang-orang yang mempertahankan kefitrahannya ini selalu berupaya agar kondisi batinnya tetap terjaga dan terpancar dalam berbagai ikhtiar bermahabbah karena Allah. Seandainya ada kotoran yang dapat mengotori hatinya melalui pikirannya, maka dia dengan sekuat tenaga membertahankan untuk senantiasa memohon perlindungan kepada-Nya. Seandainya hal yang dapat mengotori hatinya tersebut melalui celah-celah lisannya, dia akan berikhtiar sedekian rupa untuk tidak berghibah atas orang lain yang penting ataupun yang tidak penting.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Namun kondisi kita memang terbatas dalam segala hal. Kita gampang membicarakan orang lain, kita gampang menaruh pikiran negatif kepada orang lain. Lebih dari itu, terkadang kita tidak menyadari bahwa dalam berbagai hal aktivitas kita dapat membuat kefitrahan itu ternodai. Oleh karena itu, predikat fitrah yang diberikan Allah saat momentung hari raya idul fitri terkadang tidak sampai bertahan beberapa lama.

Satu-satunya jalan untuk mempertahankan predikat Allah ini ialah selalu berdoa dan memohon ampun terhadap-Nya sekaligus lebih memperbanyak membaca istighfar atau segala hal yang telah kita lakukan mulai kita bangun sampai kita tidur kembali. Sampai datang momentung bulan Ramadhan yang akan datang kita harus berupaya menguncupkan Ramadhan dalam dada kita yang setiap saat dapat mekar kefitrahan.

Orang-orang yang berlomba-lomba dalam kebaikan bukanlah orang yang melakukan banyak kebaikan sekali kemudian berhenti, melainkan orang-orang yang senantiasa istiqomah dalam melakukannya. Jangan sampai kefitrahan kita tergilas seperti setetes embun yang dapat mengering saat matahari mulai terik. Kefitrahan kita harus seperti air mata yang sepanjang hari tak pernah kering untuk membasahi dan menjernihkan mata kita. Selamat Hari Raya Idul Fitri 1441 H, minal aidzin wal faidzin, mohon maaf lahir dan batin.

Informasi kuliah di Unisma silahkan kunjugi www.unisma.ac.id

Moh. Badrih
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA
Aktivis Remaja Masjid Kota Malang
Pengurus Ponpes Tahfidz Al Madani Malang.

Translate »