SARJANA DAN TANTANGAN COVID-19

SARJANA DAN TANTANGAN COVID-19

Persebaran virus Corona (Covid-19) menjadi krisis besar zaman modern yang memaksa manusia di seluruh penjuru dunia untuk membatasi segala aktivitas kehidupan, tak terkecuali masyarakat di Indonesia. Demi menghentikan rantai virus, mobilitas kian dibatasi. Kita dituntut untuk melakukan kerjasama dengan pemerintah seiring diberlakukannya aturan demi aturan. Sistem kerja dirumah saja dalam rangka physical distancing pun menjadi tantangan tersendiri bagi semua kalangan masyarakat.

Sebelum kemunculan virus ini, kita dituntut untuk kerja cepat. Mereka bekerja hampir tanpa henti setiap harinya demi mengejar target pertumbuhan ekonomi dan mempertahankan persaingan di revolusi 4.0. Namun, setelah masuknya virus corona di negara ini, semua komponen masyarakat mau tidak mau wajib mengubah sistem kerja dengan tetap mengunggulkan inovasi dan kreasi agar roda kehidupan tetap berjalan.

Tentu, problematika tersebut membawa dampak yang cukup besar, salah satunya adalah bagi calon sarjana baru. Perguruan tinggi negeri dan swasta telah membuat berbagai kebijakan bagi para calon sarjana dikampus mereka, ada yang secara langsung membatalkan ceremony wisuda, namun ada juga yang berusaha menunda momen tersebut sampai batas waktu yang belum pasti guna menghambat laju persebaran virus Covid-19.

Presiden Joko Widodo dalam pidatonya menyatakan bahwa beliau optimis 2021 adalah tahun pemulihan dan tahun rebound bagi negara Indonesia setelah pandemi virus corona melumpuhkan pertumbuhan ekonomi sampai di titik terbawah. Bukan hanya Indonesia, negara lain pun mengalami kondisi yang sama persis. Dari pernyataan tersebut, maka dapat disimpulkan bahwa roda ekonomi akan kembali normal setidaknya diawal tahun 2021. Itu artinya ribuan sarjana muda harus menunggu hingga kurang lebih 8 bulan untuk mendapatkan pekerjaan pasca lulus kuliah.

Lalu pertanyaan selanjutnya, apakah seiring berakhirnya pandemi Covid-19 maka lowongan kerja juga akan membludak? Kita semua mengetahui bahwa aturan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) telah diberlakukan oleh banyak instansi dan perusahaan demi mempertahankan keberlangsungan usaha melalui upaya minimalisir pengeluaran yang membengkak akibat gaji untuk para karyawanya. Ancaman PHK pun masih terus menghantui mereka yang masih aktif bekerja mengingat pandemi ini belum diketahui pasti kapan akan berakhir. Maka kondisi ini jelas akan mempengaruhi nasib ribuan sarjana muda sebab mereka akan berlomba mendapatkan pekerjaan disaat perekonomian negara berada pada posisi terendah.

Dalam riset yang dilakukan oleh Gardiner di lembaga Resolution Foundation Inggris menyatakan bahwa setelah pandemi virus Covid-19 ini berakhir, maka persaingan ekomoni akan semakin ketat. Baik institusi maupun perusahaan akan lebih selektif dalam merekrut pelamar baru. Hal ini diberlakukan untuk efisiensi perusahaan yang akan berfokus pada calon pegawai yang berpengalaman dibanding berprospek pada lulusan baru. Tentu temuan ini menjadi persoalan tersendiri bagi sarjana muda karena dampak terburuk yang akan dialami ialah menjadi pengangguran.

Melihat prediksi tersebut, bukan berarti bahwa para sarjana muda tidak mungkin memperoleh pekerjaan yang mereka impikan. Maka yang harus dilakukan ialah dengan meningkatkan kualitas diri agar mereka menjadi bagian dari prospek masa depan lapangan kerja yang akan dituju. Pertama ialah berteman dengan teknologi. Keberadaan teknologi tidak akan tergantikan pada era sekarang maupun mendatang.

Ada atau tidak adanya pandemi, teknologi menjadi solusi utama yang membantu sistem kerja agar lebih efektif dan efisien. Sarjana tentu tidak asing dengan teknologi karena mereka dianggap dekat dengan perangkat tersebut selama kuliah. Maka tidak ada salahnya jika selama masa karantina, mereka mempelajari lebih dalam lagi tentang teknologi. Disisi lain, teknologi menjadi perangkat dinamis yang selalu mengikuti perkembangan ekonomi dan bisnis. Karena perubahannya sering kali memunculkan lapangan kerja baru, seperti contoh di tahun-tahun sebelumnya ialah transportasi online.

Kedua yakni berbekal ketrampilan baru. Masa pandemi mungkin menjadi mimpi buruk bagi masyarakat luas, tak terkecuali para sarjana muda. Untuk mengimbangi kemajuan zaman dan teknologi, maka penting bagi mereka untuk bergerak mencoba hal baru ketimbang berdiam dan meratapi mimpi yang tertunda. Misalnya, melatih teknis dasar analisis, berwirausaha, menulis, dan bahkan mencoba ketrampilan non-teknis seperti manajemen waktu dan keuangan. Sekecil apapun ketrampilan baru yang dimiliki, maka nilanya akan meningkatkan produktivitas dan menambah keyakinan terhadap kemampuan mereka.

Penulis: Febti Ismiatun, Dosen Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Islam Malang (UNISMA).

 

Tulisan asli terbit di times Indonesia edisi Rabu, 6 Mei 2020.

Translate »