Refleksi Hardiknas, BEM Unisma Gelar ‘Bincang Pendidikan’ Online

Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Unisma menggelar bincang pendidikan bertepatan dengan hari pendidikan Nasional, 2 Mei 2020. Acara tersebut berlangsung dari pukul 20.00 hingga 21.30 melalui siaran langsung di Instagram @bemunisma. Tema yang diangkat dalam bincang pendidikan disesuaikan dengan kondisi saat ini yaitu “Refleksi Hari Pendidikan: Kemerdekaan Belajar di Tengah Pandemi Covid-19”. Sebagai pembicara yaitu Prof Djoko Saryono, M.Pd guru besar Universitas Malang dan pengamat pendidikan.

Secara khusus acara bincang pendidikan ini merupakan program dari kementrian pendidikan dan kebudayaan (Kemdikbud) BEM Universitas Islam Malang (Unisma). Presiden mahasiswa A Faruuq menyatakan bahwa acara ini digelar sebagai bentuk refleksi dari hari pendidikan di tengah kondisi pandemic Covid-19. “Jadi acara ini sengaja dilaksanakan oleh kemdikbud BEM Unisma sebagai upaya refleksi pendidikan Indonesia saat ini. Mengingat Kemdikbud pusat telah mengeluarkan surat himbauan berkenaan dengan pelaksanaan hari pendidikan di tengah pandemic, tema yang diangkat Kemdikbud pusat adalah Belajar Dari Pandemi. Sebagai respon dari keberlangsung merdeka belajar dan kampus merdeka di tengah pandemi kami menginisiasi bincang pendidikan ini,” ungkap presiden mahasiswa.

M Afnani Alifian, sebagai Menteri Pendidikan dan Kebudayaan BEM Unisma yang juga bertindak sebagai moderator menyatakan siaran langsung Instagram ini cukup berjalan efektif. “Alhamdulillah diskusi ini berjalan cukup baik, peserta yang melihat terhitung lebih dari 100 orang. Mungkin karena momentum yang tepat sehingga mahasiswa tertarik untuk melihat bincang pendidikan ini,” ungkap Dani sapaan akrabnya.

Pada diskusi tersebut membahas secara luas persoalan kemerdekaan belajar serta efektivitasnya selama masa pandemi Covid-19. Prof Djoko Saryono mengungkapkan jika seluruh dunia memang merasakan dilematis, tidak hanya dari sektor pendidikan, ekonomi, politik juga turut terkena imbasnya. “Saya rasa kemerdekaan belajar yang meliputi merdeka belajar dan kampus merdeka merupakan konsep yang cukup baik dan menarik untuk dunia pendidikan di Indonesia. Namun untuk berbicara efektivitas, sejauh ini kita belum bisa melihatnya secara maksimal. Sebab baru beberapa bulan berjalan kita sudah terserang pandemi Covid-19, pembelajaran dilakukan serba jarak jauh melalui daring. Ini juga tantangannya agar kedepan kita bisa lebih melek teknologi utamanya dalam bidang pendidikan,” ungkap Prof Djoko di tengah diskusi.

Beliau juga menuturkan bahwa pendidikan tidak boleh lumpuh, merdeka belajar harus tetap berjalan. “Secara teoritis merdeka belajar bukanlah hal yang baru, namun untuk menjadikan kebijakan membutuhkan waktu yang lama. Saat ini, kita juga sudah tertolong dengan adanya digitalisasi pada masa pandemi. Terdapat 2 poin penting dalam merdeka belajar. Yaitu, kemandirian yang dilakukan oleh guru maupun siswa dalam proses pembelajaran. Dan kebebasan, yang dibuat dari kenormalan lama yakni dapat belajar dimana saja dan tidak harus di sekolah atau tempat pendidikan yang lain” ungkap dosen Universitas Negeri Malang tersebut.

“Ada tiga hal yang harus dilakukan pemerintah dalam hal ini kemdikbud guna dalam kondisi pandemi covid 19. Pertama melakukan antisipasi, kedua melakukan eksekusi, dan ketiga memikirkan pasca covid-19.” Prof Djoko menilai sejauh ini yang dilakukan sudah cukup baik, hanya saja perlu dipikirkan bersama untuk dampak yang akan dirasakan dunia pendidikan pasca pandemi covid-19.

Pada akhir bincang diskusi dibuka sesi pertanyaan melalui kolom komentar. Ada lima pertanyaan yang terjawab langsung oleh Prof Djoko. Bincang pendidikan tersebut berakhir dengan kesimpulan dari moderator.

Translate »