Puasa Untuk Revolusi Psikologis

Dalam hidup ini, banyak pesan yang ditujukan pada diri manusia, baik dari segi agama, etika, maupun psikologis. Manusia menjadi episentrum yang bisa melahirkan dunia menjadi berkeadaban atau sebaliknya, mempertontonkan kebiadaban.

Penulis Spanyol yang bernama Camilo Jose Cela (1916–2002) yang juga peraih Nobel Sastra 1989 mengingatkan “Ada dua jenis manusia: satu yang mengukir sejarah dan satu lagi yang memikul beban akibatnya.  Tulisan ini memberi pesan, bahwa setiap manusia dalam hidupnya harus memahami dua aspek penting atas peran yang dilakukannya.

Dalam pandangan penulis itu, manusia diingatkan bahwa dua hal penting mestilah selalu mengikuti peran atau aktifitas yang  dilakukannya. Semakin strategis atau fundamental peran yang ditunjukkannya, maka semakin besar pula pengaruhnya dalam ranah dimana dirinya berperan, termasuk perannya saat menjalankan puasa (ramadan).

Puasa di bulan ramadan memang sering disebut sebagai puasa yang mampu menyembuhkan berbagai jenis penyakit, diantaranya penyakit psikologis. Seberat apapun virus kejiwaan yang diderita seseorang, termasuk di era pandemi Covid-19, jika ia benar-benar mampu menjalankan puasanya dengan benar, maka ia bisa sembuh, atau dengan puasa yag dijalaninya, ia akan memiliki imunitas psikologis yang dapat dijadikan modal besar dalam menjawab pandemi Covid-19.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Kalau Covid-19 berposisi sebagai ujian, maka puasa berposisi sebagai jawaban. Menyatukan keduanya menjadi bagian dari konstruksi bernalar akan membuat manusia bisa lebih tenang (damai), sehingga tidak sampai terjerumus menjatuhkan pilihan yang menunjukkan diri sebagai pelaku sejarah yang putus asa.

Memang,  akibat pandemi Covid-19 sekarang ini memungkinkan banyak orang menderita penyakit kejiwaan yang  tidak dapat dipungkiri kondisinya serius. Realitas sosial dari masyara­kat agraris menuju masyarakat industri (industrial society) yang kemudian diikuti era milenialistik terbukti telah mendatangkan sejumlah persoalan psikologis yang tidak ringan yang menyiksa, meng-azab atau mengakibatkan derita tersendiri, yang kesemua ini sebagai resiko  dalam kehidupan manusia modern.

Meskipun sedang dihadapkan dengan wabah Covid-19, namun  stigma sebagai masyarakat Indonesia sebagai masyarakat modern tetap melekat. Covid-19 hanya “menumpang” dalam bentuk mengeksaminasi atau memberikan ujian tentang ketahanan fisik dan psikologisnya.

Kehadiran Covid-19 akhirnya identic dengan memberikan beban ganda terhadap masyarakat moden. Ketangguhannya dipertaruhkan untuk menyerah kepaanya atau berusaha sekuat-kuatnya mengalahkanya.

Modernitas itu tidak identik sebagai simbol masyarakat  yang menikmati kebahagiaan dan ketenangan, tetapi sebagai masyarakat yang bisa berubah, beradaptasi, dan mengadopsi pola kehidupan yang ditawarkan atau “dijual” oleh pasar, yang membuatnya takluk.

Masyarakat diajak oleh kompetisi dan pergulatan “pasar” global seperti industrialisasi model, gaya berpakaian, gaya berkonsumsi, gaya bergaul, dan sejenisnya, sebatas  untuk menjadi bagian dari mesin dan sekaligus skrup perubahan, namun perubahan yang mengajaknya ini sekedar memuaskan dan menyenangkan, dan bukan menyenangkan dan membahagiaakan.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Rawannya kejiwaan manusia itu merupakan resiko pilihan hidup yang lebih “membendakan” dan menkultuskan kepuasan diri, selalu merasa takut kalah dan tersingkir dari pergulatan berburu kemapanan dan populeritas status soaia dan ekonomi, takut kehilangan peluang strategis atau kemerdekaan dirinya merasa serba tertindas oleh jajahan dan desakan materialisme.

Begitu manusia modern itu kehilangan kejernihan dan kecer­dasan nuraninya maka sulit diharapkan  terbentuk sosok pribadi yang tangguh secara moral, agama dan sosial. Peran kreatif, inova­tif, dan kemanusiaannya sulit diharapkan dapat mengalami dinamisasi dan memberdaya dalam mengairi kehidupan sesamanya.

Pernah ada suatu sigi di Jakarta yang menyebutkan bahwa 20 % manusia Jakarta yang menempati posisi eksekutif sedang menderita stres. Di AS, pernah terjadi sebanyak ratusan manager Jepang yang bekerja di AS yang melakukan bunuh diri karena diduga tak sanggup menerima reali­tas kebijakan restrukturisasi ekonomi yang merugikan usaha (bisnisnya).

Sedangkan di Indonesia dapat digunakan sebagai pembenarannya, bahwa kemiskinan dan himpitan ekonomi yang melanda Indonesia beberapa tahun terakhir ini berpotensi timbulkan gangguan jiwa pada penduduknya secara serius. Hal itu dikuatkan pada hasil riset kesehatan dasar yang pernah menyebutkan 14,1 persen penduduk Indonesia mengalami gangguan jiwa dari yang ringan hingga berat.

Hal itu sebagaimana digambarkan oleh Ivan Illich, bahwa problem utama masyarakat modern adalah stres kehidupan, ketidak-puasan, ketidak-bahagiaan, kerakusan, kecemasan terhadap nilai-nilai, maraknya penyimpangan, kelainan jiwa dan kehilangan kontrol diri. Penyakit ini merupakan tantangan bagi negara dan bangsa kita yang sedang menghadapi banyak masalah serius, diantaranya akibat ujian Covid-19 ini, yang dalma ranah Islam sudah tersedia salah satu jawabannya: Puasa.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

*)Penulis: Abdul Wahid, Dosen Fakultas Hukum (FH) Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Penulis Buku Hukum dan Agama

 

TUlisan Asli dimuat di times indonesia edisi Kamis, 7 Mei 2020.

Translate »