PUASA SEBAGAI ‘JIHADUN NAFSI’

PUASA SEBAGAI ‘JIHADUN NAFSI’

Kemenangan Perang Badar di pihak kaum muslimin merupakan ukiran indah dalam sejarah Islam yang mengilustrasikan bahwa jumlah pasukan yang kecil tidak selamanya kalah dengan jumlah yang besar. Hal ini sebagai pendidikan kepada kita bahwa campur tangan Allah dalam perjuangan yang di dasarkan pada niat yang tulus dan keihklasan menjadi kunci utama keberhasilannya. Demikian juga dengan kemenangan tentara Thalut atas Raja Jalut pada masa Nabi Dawud. Jumlah pasukan Thalut sangalah sedikit dibanding dengan pasukan Jalut yang jumlahnya ribuan. Namun, ketika Allah berkehendak akan sesuatu, maka ‘sesuatu itu’ tidak akan dipandang siapa dan jumlahnya berapa, jika Allah akan memenangkannyam, maka ia akan menang.

Demikian dengan Thalut yang merupakan orang biasa-biasa dibanding dengan para pembesar Israil kala itu. Ketika Allah yang berkendak memberikan kejaraan pada Thalut, maka hal itu tidaklah sulit bagi Allah. “Allahumma malikal mulki tu’til mulka man tasya’ wa tanzi’ul mulka mimman tasya’ wa tu’izzu man tasya’ wa tudzillu man tasya’. “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan, Engkau berikan kerajaan kepada orang yang Engkau kehendaki dan Engkau cabut kerajaan dari orang yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki”(QS, 3:5).

Dua gambaran peristiwa perang tersebut sebagai gambaran jihad yang betul-betul karena Allah. Namun, setelah kaum muslimin pulang dari perang Badar yang sangat dahsyat tersebut, Rasulullah bersanda “Sesungguhnya kita telah pulang dari perang kecil dan menuju perang besar. Beberapa saat kemudian sahabat bertanya. Apa perang besar yang engkau maksud wahai Rasulullah. Rasulullah menjawab. Ialah perang melawan hawa nafsu”. Bagi kaum muslimin, hawa nafsu adalah musuh yang sangat nyata dan utama yang harus diperangi, sebelum memerangi yang lain.

Saat kita melaksanakan puasa di bulan Ramadhan ini, kita telah berikhtiar melakukan perang melawan hawa nafsu. Musuh yang tidak terlihat namun sangat dekat dengan diri kita bahkan menjadi satu dengan diri kita. Tidak ada pedang untuk melawannya termasuk benda-benda yang lain kecuali berpegang teguh pada Allah dan sunnah Rasullullah. Demikianlah, saat kita menjaga hati agar tidak terkotori oleh qodaan hawa nafsu kita sedang berperang malawannya. Iman dan keyakinan yang kita miliki adalah senjata kita untuk menaklukan hawa nafsu.

Mulai terbit matahari sampai waktu Maghrib kita telah menahan diri agar tidak terpengaruh oleh godaan nafsu yang dapat membatalkan puasa secara syariat. Namun kita juga harus berhati-hati untuk senantiasa berikhtiar agar puasa kita tidak batal secara ‘akhlak’. Dengan kata lain, kita sanggup melawan rasa dan haus, namun kita tidak sanggup melawan qodaan hawa nafsu lain yang melewati mata, telinga, atau indra yang lain. Apabila kita tidak dapat melawan bagian terakhit tersebut, berarrti kita belum sempurna memerangi hawa nafsu yang ada dalam diri kita.

Pertama, nafsu amarah yang ada dalam diri. Sering kita melakukan berbagai hal hanya untuk kepentingna kita sendiri tanpa memperdulikan kepentingan orang lain. Begitu ambisinya kita melakukan hal tersebut sehingga orang rugi karenanya, sedangkan kita tetap tidak mau tahu dan peduli dengan resiko yang telah kita kerjakan. Demikianlah nafsu amarah yang ada dalam diri kita, sangat terkesan seperti hewan buas yang siap menyantap siapapun tanpa pandang bulu. Nafsu ini tidak akan bisa tunduk kecuali dengan ilmu yang kita miliki dan pikiran bijak yang mengawali. dengan dua hal tersebut nafsu amarah bisa tunduk.

Ilmu dan akan yang kita miliki akan menjadi sempurna saat kita berpuasa dengan sepenuh hati karena Allah. Dengan demikian, tubuh kita yang dikuasai oleh eneggi nafsu amarah akan ini akan melemah karena kekuatan berpuasa sehingga ilmu yang telah kita miliki akan bekerja dan pikiran akan menjadi bijak. Pada akhirnya setiap kepentingan kita akan orang lain akan senantiasa melihat resiko terhadap orang lain.

Kedua, nafsu lawwamah dalam diri. Jenis nafsul ini tidak seperti amarah yakni reaksinya lebih lentur dari pada nafsu amarah yang terdapat dalam diri kita. keberedaan nafsul lawwamah dalam diri telah mengenal hal yang baik dan yang buruk. Apabila kita melaksanakan perbuatan kurang baik lantas menyadarinya kemudian membaca istighfar, maka sejatinya hal tersebut adalah nafsul lawwamah. Saat kita melakukan ibadah puasa. Hal baik yang ada pada nafsul lawwamah dapat menjadi dominasi sehingga aktivitas kita cenderung melakukan hal-hal yang baik sepanjang hari.

Ketiga, nafsu mutmainnah dalam diri. Jenis nafsu ini, senantiasa membawa kita pada kebaikan kepada Allah. Dalam berbagai hal, nafsu mutmainnah selalu mengedepankan hal-hal kebaikan. Apakah kondisi kita sedang kesusahan ataukah dalam kondisi senang. Hujjatul Islam Imam Al-Ghazali menempatkan nafsu ini pada tingkatan ketiga, hal ini sangatlah benar karena nafsu ini membawa kita semakin dekat dengan Allah. Saat kita melakukan puasa yang betul-betul karena Allah, nafsu ini senantiasa meliputi jiwa dan raga kita. Sehingga kesempatan kita menjadi orang-orang yang muttaqin semakin besar. Semoga di bulan puasa kali ini menempa kita menjadi orang-orang yang sangat bijak, amin.

Moh. Badrih
Dosen Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia FKIP UNISMA
Aktivis Remaja Masjid Kota Malang
Pengurus Ponpes Al-Madani Malang

Artikel asli dimuat di times indonesia edisi minggu 3 Mei 2020.

Translate »