Ngaji Matematika (1): Islam dan Matematika

SEJAK lama matematika menjadi bekal umat manusia dalam menghasilkan berbagai macam penemuan dan inovasi yang bisa mempermudah kehidupan mereka, seperti penemuan komputer, system transportasi dan komunikasi, penggunaan energi ato, estimasi pertumbuhan penduduk, pembuatan vaksin dan obat, sistem navigasi pesawat angkasa luar, ramalan cuaca. Namun sayangnya, pada masa sekarang, tampaknya –sebagian masih beranggapan- matematika lebih dikuasai oleh orang non-muslim dibanding umat Islam sendiri.

Padahal  dunia Islam telah melahirkan banyak tokoh yang tidak hanya menguasai bidang ilmu agama juga piawai dalam bidang ilmu matematika. Misalnya Jabir bin Sinan al-Battani seorang ulama yang ahli trigonometri dan penemu hukum sinus dan cosinus, Omar Kayyam seorang cendekiawan muslim bidang astronomi, sastra dan matematika. Adapula seorang ilmuwan muslim kelahiran Kharizm, Iran, dikenal sebagai ahli di bidang astronomi, geografi dan matematika. Ia juga dikenal sebagai pencetus angka `0′ dan mengenalkan sistem notasi desimal serta tanda pengkalian dua sebagaimana dipakai sekarang.

Mohamed (2001) dalam bukunya “Matematikawan Muslim Terkemuka” menyatakan bahwa pengetahuan yang paling disukai kaum Muslim adalah matematika dan astronomi. Dalam pandangan ilmiah orang Arab terdapat dasar religi yang mendorong antusiasme pada kegiatan matematika dan astronomi. Aritmetika diperlukan untuk menghitung warisan dan kalender Islam. Matematika atau geografi astronomi digunakan untuk menentukan petunjuk Gibla, yakni petunjuk garis yang menghubungkan tempat shalat di Makkah sebagai kiblat ibadah setiap kaum muslim.

Berkaitan dengan tujuan itu, memiliki pengetahuan akan arah posisi kiblat ibadah dari daerah geografis yang berbeda merupakan sebuah perintah. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa matematika merupakan ilmu yang fungsional dan memiliki kontribusi nyata dalam membangun peradaban dan kejayaan Islam.

Dalam perkembangannya, matematika menjadi kegemaran utama bagi kaum muslim, karena bidang itu menggabungkan kesatuan dan karakter abstrak dari pemikiran Islam. Bagi kaum muslim, matematika bukan dianggap sebagai ajaran yang sekuler, tetapi lebih sarana untuk menyalurkan pemahaman pada bidang yang dapat dimengerti. Mirip dengan Pythagorean, kaum muslim menganggap matematika merupakan kunci menguak misteri tentang Tuhan.

Menurut Arjanto dan Handjatmeko (2002), dalam filsafat Islam klasik, matematika merupakan salah satu cabang utama. Dalam pandangan dunia Islam tradisional, subjek dan objek pengetahuan bersifat hierarkis, yang mana realitas objek terentang dari yang paling materi sampai kepada Realitas Mutlak, yakni Tuhan. Realitas wujud inipun berdiri paralel dengan realitas ilmu/sains. Sehingga ilmu/sains pun memiliki hierarki mulai dari yang terendah sampai yang tertinggi. Jadi secara filosofis, tataran ontologis paralel dengan tataran epistemologis. Dengan perspektif seperti ini pula, kita akan dapat memahami bahwa semua ilmu yang bercabang-cabang itu saling berhubungan satu dengan yang lainnya, dan semuanya bergerak ke atas menuju yang Tertinggi, yakni Tuhan. Dengan kata lain, tujuan tertinggi semua ilmu adalah “menuju Tuhan”.

Alhasil, ilmu-ilmu itu semuanya diklasifikasikan oleh para ilmuwan-filosof Muslim dengan kesadaran yang mendalam akan kehadiran Tuhan. Melewati ilmu-ilmu inilah, kita, para manusia, mencari kebenaran, Tuhan. Dari sudut sebaliknya dapat dikatakan bahwa pada ilmu-ilmu pulalah kita dapat menemukan kebenaran yang disebarkan Tuhan. Bukankah Tuhan mengatakan bahwa Dia menyebarkan tanda-tanda-Nya di segenap penjuru alam dan pada diri manusia sendiri?

Ilmu-ilmu layaknya seperti cabang-cabang pohon yang aslinya satu. Yang satu merupakan bagian tak langsung dari yang lain. Jadi, tidak ada lagi pemisahan antara ilmu satu dengan yang lainnya, apalagi antara ilmu-ilmu yang dianggap ilmu-ilmu agama dengan ilmu-ilmu umum. Kehadiran Tuhan dan kemenyatuan ilmu inilah yang membedakan peradaban Islam dan peradaban yang dikembangkan di dunia Barat. Dalam prinsip ilmu Islam, semua ilmu ditujukan semata-mata untuk Tuhan. Semua perjalanan menuju-Nya adalah proses penyempurnaan kemanusiaan kita sendiri. Proses menjadi manusia seutuhya, manusia sempurna, Insan Kamil.

Ketika kita mempelajari, memahami, mendalami matematika dengan melewati perspektif paradigma ini, maka kita akan secara otomatis memposisikan diri sebagai bagian yang sedang bergerak menuju Tuhan, di mana pada saat bersamaan, banyak orang-orang di sekitar kita juga tengah bergerak melalui pendalaman akan cabang ilmu yang lain, namun kita menyadari posisi kita dan sekaligus menyadari posisi pihak lain yang berupaya keras dan sungguh-sungguh (jihad) menuju Tuhan.

Kesadaran akan posisi masing-masing seperti ini akan membawa kita pada kedudukan saling menghormati. Dan kita akan mengetahui, manakala seseorang tengah menguasai berbagai cabang ilmu dengan kesungguhan dan karya nyata, maka tentulah ia menampilkan kesan lahiriah sebagai orang saleh, orang berilmu yang lebih mulia ketimbang lainnya. Dengan kata lain, penghargaan dan pemuliaan kita terhadap seseorang, dapat diukur (dalam maknanya yang paling sederhana), sangat tergantung pada kesungguhan orang itu dalam berjalan menuju-Nya, serta juga karya nyaa yang telah disumbangkannya kepada kemanusiaan secara tulus ikhlas.

Sebagaimana wataknya yang universal itu, Menurut Wardhana (2006) al-Qur’an dan hadis dapat dijadikan sebagai sumber segala ilmu pengetahuan dan tidak sebatas ilmu pendidikan yang sejenis dengan ilmu tarbiyah, ilmu hukum dengan ilmu syariah, ilmu filsafat dengan ilmu ushuluddin, ilmu bahasa dan sastra dengan ilmu adab, dan ilmu komunikasi dengan ilmu dakwah. Ilmu fisika, ilmu biologi, ilmu kimia, ilmu psikologi, ilmu pertanian dan semua ilmu lainnya dapat dicarikan informasi, sekalipun bersifat umum pada al-Qur’an. Ilmu-ilmu yang terdapat dalam al-Qur’an ada yang tersurat langsung melalui ayat-ayat Allah swt, sehingga ilmu yang tersurat langsung melalui ayat-ayat al-Qur’an tersebut mudah untuk dipahami. Tetapi, untuk ilmu yang tersirat melalui ayat-ayatnya, memerlukan penafsiran yang mendalam disertai pemahaman berbagai disiplin keilmuan yang mendukung penafsiran ayat-ayat tersebut.

Senada dengan hal tersebut, Imam Suprayogo (2009) menggunakan metafora pohon untuk menggambarkan bangunan ilmu yang bersifat integratif dengan memposisikan al-Qur’an dan hadis sebagai sumber utama selain sumber lainnya. Gambaran tentang ilmu dan berbagai cabang serta sumbernya —ayat-ayat qawliyyah dan ayat-ayat kawniyyah—itu, kiranya dapat dijadikan sebagai salah satu alternatif untuk membangun keilmuan yang bersifat integratif dalam arti tidak terjadi pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum. Yang membedakan kemudian adalah terletak pada sumbernya dan bukan pada jenis ilmu yang ada. Ilmu tetap saja terdiri atas rumpun ilmu-ilmu alam, ilmu-ilmu sosial dan humaniora. Pada umumnya para ilmuwan dalam menggali ketiga rumpun ilmu tersebut bersumberkan pada ayat-ayat qawliyyah saja. Oleh karena itu, cara yang ditempuh untuk menggalinya dengan observasi, eksperimen, dan penalaran logis.

Dengan membangun paradigma keilmuan sebagaimana di atas, maka sangat dimungkinkan akan lahir manusia yang sempurna yang selalu memadukan ayat-ayat qauliyah dan kauniyah, menjadikan al-Qur’an sebagai sumber untuk mengembangkan matematika. Paradigma inilah yang akan dapat melahirkan matematikawan ulul albab. [ahf]

ABDUL HALIM FATHANI

Pemerhati Pendidikan dan Dosen Pendidikan Matematika Universitas Islam Malang.

Translate »