Kebaikan Apa yang Kau Dapat dari Ramadlan ini? Opini oleh Alumni

BAKAK UNISMA
BAKAK UNISMA

Renungan-renungan seperti itulah yang seharusnya kita pikirkan pasca Ramadlan ini. Kebaikan apa yang kita dapatkan pasca Ramadlan? Bertambah baikkah kita? Supaya kita tidak terjebak dalam puasa yang hanya mendapatkan haus dan lapar saja. Puasanya tidak memberikan efek apapun pada dirinya.

Ketika Ramadlan, seseorang pasti mengalami perubahan aktivitas harian. Yang biasanya jarang atau bahkan tidak pernah mengaji, karena wasilah Ramadlan ia mau mengaji walau hanya melalui tadarusan. Qiyamullail berupa tarawih dan witir juga menjadi motivasi tersendiri untuk menambah kebaikan di bulan suci tersebut. Shalatnya lebih tertata termasuk bangun malamnya yang mulai terbiasa karena harus sahur menjadi kebiasaan barunya. Tenaga berlebih di siang hari yang biasanya digunakan untuk maksiat juga berkurang karena ia harus menahan lapar dan haus sehingga membuatnya tidak melakukan maksiat. Merasa senasib seperjuangan karena sama-sama merasakan lapar menambah kepedulian dan kepekaan seseorang terhadap sesama hingga ia tak merasa segan untuk berbagi sekadar sedekah dan zakat.

Rentetan kebaikan itulah yang menjadi habit (kebiasaan) barunya. Maka tak heran, sedikit banyak habit tersebut tetap melekat pasca Ramadlan. Begitulah dahsyatnya Ramadlan. Rasulullah Saw sampai menggambarkan, siapa yang tau kebaikan yang ada di dalam bulan Ramadlan, maka ia akan berharap seluruh bulan dalam setahun dijadikan Ramadlan.

Maka dari itu, dalam rangka menyambut kebaikan Ramadlan itulah kita dianjurkan oleh Nabi Saw untuk bersukacita dengan datangnya bulan suci tersebut supaya ada energi positif yang dapat menambah motivasi kita dalam menjalani kehidupan baru di bulan Ramadlan. Supaya ada semangat baru dalam melakukan ibadah-ibadah dan kebaikan-kebaikan di bulan Ramadlan dengan harapan keluar dari Ramadlan menjadi fitri suci laksana bayi yang baru dilahirkan, bersih dari segala dosa.

Barometer kebaikan tersebut tentu dapat diukur dari bertambahnya intensitas ibadah, habit yang lebih positif atau kesadaran-kesadaran untuk terus berbenah menjadi baik dan lebih baik lagi pasca Ramadlan.

Di beranda media sosial banyak bertebaran status positif yang menggambarkan syahdunya suasana Ramadlan yang terus berlanjut pasca Ramadlan seperti kebiasaan tilawah, qiyamullail, dan kebiasaan bangun pagi sebelum shubuh yang tentu akan menambah daya produktivitasnya. Konon dipercaya, kesuksesan dan kebaikan seseorang pertama kali dilihat dari kebiasaan bangun paginya.

Secara spesifik, kebaikan apa yang kita dapatkan pasca Ramadlan ini?
Akankah kita kembali mengotorinya setelah susah payah membersihkannya?

Penulis:
Muhammad Abdul Fatah
Peserta Da’i Standarisasi LD-PBNU

Translate »