Hebat, Alumni Unisma Advokat Khusus KDRT

Hebat, Alumni Unisma Advokat Khusus KDRTHebat, Alumni Unisma Advokat Khusus KDRT

Kabag Alumni Unisma Bapak Puguh Suko Darmawan, ST. kali ini meliput alumni dari Fakultas Hukum Unisma. Selanjutnya akan dinarasikan sesuai hasil wawancara.

Bernama Mohamad Sholahuddin, SH. pria kelahiran Jombang merupakan alumni Unisma Malang. Ia mengenyam pendidikan di Fakultas Hukum angkatan 1996 dan menyelesaikan studinya pada tahun 2000.

Aktivitas keseharian pria tampan ini selain sebagai Pembina KPMJ adalah sebagai Advokat/pengacara. Juga Direktur LBH Nurani Keadilan Jombang,  ketua NGO Lembaga perlindungan Perempuan dan Anak (LP2A) mitra program Kemensos RI. Konsultan di PT. Phalosari Unggul Jaya Jombang dan CV. Wahana sejahtera Foods sebagai Legal Officer.

Sholahuddin juga tercatat sebagai Pembina KGH (Komunitas Generasi Harapan) Metamorfosis dari anak-anak punk yang kembali ke “jalan wajar”, Ketua Santri Ombudsman Kab. Jombang (mitra Ombudsman perwakilan Propinsi). LBH PUAN “Sejahtera” Lembaga Bantuan Hukum Perempuan dan Anak, yang fokus pendampingan pada isu-isu perempuan dan anak secara prodeo (gratis).

Komunitas Perempuan Mandiri Jombang (KPMJ), merupakan kelompok yang berawal dari para perempuan korban kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) di Jombang. Sering bertemu, lalu memutuskan membentuk komunitas sehingga bisa saling menguatkan dan meningkatkan kemampuan pribadi agar mampu mandiri.

Hal tersebut tidak lepas dari tangan dingin M. Sholahuddin, SH. yang merupakan salah satu penggagas sekaligus pendamping komunitas tersebut.

KPMJ kemudian tumbuh berkembang dan memiliki anggota yang mandiri secara ekonomi, yang kemudian mereka tidak segan berbagi dan menularkan informasi kepada perempuan lain yang bernasib sama, dengan memberikan pelatihan keterampilan dan wirausaha.

”Ada pelatihan memasak, membuat telur asin, menjahit, dan juga pengetahuan soal hukum,” tutur Udin sapaan akrab M. Sholahuddin.

Rutinitas seperti itu dikerjakannya sewaktu pulang dari “ngantor” di sekretariat KPMJ. Berbekal pendidikan hukumnya dia berinisiatif memberikan penyuluhan dan pendampingan kalau ada korban KDRT.

“Saya beri pendampingan psikologis, saya datangi dan membantu untuk mengurus proses hukum, juga saya antarkan,” terang Udin yang juga menceritakan ada seorang perempuan datang dalam kondisi kepala bocor setelah dianiaya suaminya. Kala itu, dia berlari dengan membawa dua anaknya.

Anggota KPMJ dengan rumah yang saling berjauhan, tidak menyurutkan niat mereka untuk bergabung menjadi satu komunitas dan sama-sama melakukan konseling kepada Udin. “Mereka adalah klien saya yang sudah sangat lama,” kata Udin.

Sukses Udin bisa berperan dan membuat perempuan-perempuan tersebut menata kehidupannya kembali, timbul gagasan baru. Yakni, mempertemukan mantan kliennya  itu dan meminta mereka menjadi perpanjangan tangan. “Saya kewalahan mendampingi sendirian, karena klien saya semakin banyak,” kata bapak tiga anak ini.

Singkat cerita, pada 1 Januari 2012 lalu, mantan klien Udin itu dipertemukan dan bersepakat membentuk komunitas. Dengan beragam pelatihan, kini Wiji, Nur, Mutmainah, Zeni, maupun Yulia, cakap memberi pendampingan korban KDRT.

Mereka semua sudah paham tentang prosedur mengurus perceraian maupun memperjuangkan hak seorang istri maupun anak-anak. Wiji yang merupakan koordinator pendamping, bahkan berhasil memotivasi suaminya untuk bergabung dalam Men Care Jombang (komunitas peduli aktivitas rumah tangga). “Biar dia mengerti dan mau berbagi peran mengerjakan pekerjaan rumah tangga,” papar Udin dengan bangganya.

Seiring berjalannya waktu KPMJ memiliki anggota semakin banyak. Berbagai kondisi yang dialami tidak hanya KDRT datang silih berganti untuk mengadu kepada KPMJ. bahkan, tidak sedikit pula perempuan muda maupun istri dari keluarga harmonis yang bergabung.

“Mereka ingin ikut berbagi sehingga mempunyai bekal pencegahan KDRT,” kata Udin. ”Mayoritas memang adalah korban KDRT yang datang untuk mengadukan kondisinya. Jumlahnya ratusan orang. Termuda berusia 25 tahun. Dia bergabung setelah ditinggal suami tanpa jejak diusia satu bulan pernikahan,” imbuhnya.

Sebanyak 47 persen, mengalami kekerasan fisik. Hampir semua terjadi lantaran minimnya latar belakang pendidikan sang suami. “Suami-suami yang begini tidak bisa beradu argumen. Jadi, kalau ada perselisihan, mereka main tangan,” tutur Udin. Sedangkan sisanya, 53 persen, mengalami kekerasan dari segi ekonomi dan psikologis. “Kebanyakan justru dari keluarga yang mapan secara ekonomi. Lalu, suaminya berselingkuh dan menelantarkan istri serta anak,” tambahnya.

Atas kerja kerasnya, KPMJ terpilih sebagai juara dalam grand final kompetisi komunitas tingkat nasional yang diprakarsai Jawa Pos For Her beberapa tahun yang lalu dengan mengalahkan 550 komunitas se Indonesia. Tak ayal, mendengar kabar tersebut seluruh anggota KPMJ heboh kegirangan, terlebih lagi akan mendapat hadiah jalan-jalan ke Amerika selama 10 hari ditambah uang saku 35.000 USD.

Ia mengaku semua yang didapatnya selama ini berawal dari pendidikan dan pengalamannya semala berkuliah di Unisma.
“Luar biasa, pengalaman serta keilmuan yang didapat dari Unisma kampus yang menjunjung tinggi nilai-nilai Ahlussunah Waljama’ah An Nahdliyah. Nilai-nilai itu pula yang membentuk karakter para alumni dan menjadi orang-orang yang bermanfaat bagi masyarakat bangsa dan negara,” ungkapnya.

Dengan pencapaiannya saat ini,  Mohamad Sholahuddin, SH. memberikan pesan kepada mahasiswa Unisma dan generasi muda. ”Gunakan kesempatan kalian untuk belajar banyak hal di Unisma ikhlas, sabar dan pantang menyerah, pasti jalan kesuksesan akan membentang didepan kita. Unisma kampus penuh keberkahan karena didirikan diatas doa para muassis yang ikhlas meletakkan dasar pembangunannya,” imbuhnya.

Tak lupa Mohamad Sholahuddin mendoakan Unisma Malang semakin maju dan keren.

Translate »