Dimensi Mahasiswa Idealis dan Pragmatis

Tugas manusia bukan menulis namun membaca ‘iqrok’.

Pembaca belum tentu penulis, menulis sudah tentu pembaca.

Dalam menemukan kualitas tulisan harus lapar dengan banyak membaca;’Tuhan tidak menentukan objek apa yang dibaca, hanya diingatkan menyebutkan nama Tuhannya dalam membaca, tidak ditentukan ketika mau membaca, banyak objek, bisa Al-quran, kitab, buku, dan lingkungan’.

Mahasiswa dalam berkarya akan ditentukan oleh dua dimensi rutinitas dan kreatifitias. Hal itu dilakukan oleh mahasiswa. hasilnya ada dua, skripsi dan buku jika beruntung. Melakukan keduanya sangat berat. Sebab dalam proses melakukan ditembuh dengan kreatifitas meainkan cari serta otak untu menulis, menulis bukan hal mudah, tentu juga harus membaca, membaca akan membantu karya berkualitas.

Akhir-akhir ini saya tidak sengaja dan walaupun kadang disengaja, jalan-jalan ke perpustakaan pascasarjana sebutkan saja kampusnya Unisma. Memandangi setiap rak-rak kaget ada yang berwarna hitam, coklat, merah, dan kuning. Ada pula buku-buku yang dibedakan dengan itu semua, sempat duduk sebentar lalu berpikir apa yang membedakan dari keduanya?, pertanyaan itu seperti tertunaikan dalam diri sendir dan lucunya ya menjawab sendiri, walau kadang merasa tidak tepat jawabannya. Tawaku dalam hati ketidaktahuan itu membuat lucu dan bahagia. Makanya manusia dicipta dengan ketidaktahuan (tidak langsung kata ‘Kun’ Allah berikan), akan ada kesempurnaan manusia yang tidak akan menjadi sebuah kebahagiaan. Bergumam dalam hati.

INFORMASI SEPUTAR UNISMA MENGUNJUNGI www.unisma.ac.id

Sempat pula saya berpikir apakah, bisa saya membuat seperti itu. Tanya dengan diri sendiri. Dijawab sendiri, ditemukan kebosanan tak berkesudahan. Dalam hati bergumam lagi melihat orang-orang merunduk membaca buku ada pula yang membaca WA, tidak tahu mana yang baik menurutku tidak bisa disimpulkan. Biarkan saja, saya hanya berusaha dan berpikir bagaimana di tangan mereka nanti bisa membaca karyaku. Seperti buku yang dipegang oleh Profesor La Fianita di pojok itu, dia asik sepertinya membaca Mochtar Lubis terpampang judul bukunya ‘Senja Di Jakarta’, saya pernah baca dulu pinjam juga dalam waktu singkat dan itu sangat ingin tahu isi dari buku itu karena ada perempuan yang meminta tolong carikan buku itu, setelah dapat saya berikan dan sebagai imbalannya saya meminjam untuk membacanya. Namun berbeda dengan buku yang kupegang yang satu penulis. Di tangan saya berjudul ‘Jalan Tak Ada Ujung’ saya memang lambat kalau baca. Sepertinya Prof itu andai ingin berbagi cerita tentang isi buku yang dibacanya, mungkin saja saya mau karena waktu saya baca belum bisa memahami secara detail. Tapi sepertinya tidak mungkin dia menabrak keinginan dan bisa membaca apa yang saya inginkan.

Dalam benakku berkata lain. Kenapa semua orang bisa merasakan dan menikmati hasil teks yang dipersembahkan penulis, caranya apa. Dan itu membuatku berkeinginan bisa pula membuat karya yang memukau seperti buku yang dipegang oleh mereka, dan mempengaruhi pikirannya dengan apa yang bisa berikan. Apakah itu impian seorang penulis semua banyak orang miliki, kalau itu memang betul semoga saja nanti Tuhan lagi tersenyum menyalahkanku bisa menulis, karena saya berpikir lagi di masa lalu yang gelap dan suram. Tak ada cahaya hingga sekarang dalam hati, minimal seperti lentera kecil yang terbuat dari botol kratindeng, diberikan sumbu dan minyak tanah lalu dinyalakan, dan hati bisa terang paling sederhana. Mungkin dengan menulis itu bisa mengikat dan bisa memberikan sedikit terang bagiku. Dan bisa menulis untuk sebuah tebusan dosa-dosaku, orang tuaku, temanku, dan para pemimpin bangsaku. Dan setiap tulisan bentuk lain dari ucapan dan ucapan bentuk lain dari doa, kala tulisan tercipta saya berpikir kalau dibaca oleh orang banyak pasti mereka sama halnya mendoakanku sebagai penulis. Mungkin harus memulainya dulu.

Beberapa bulan kemudian. Telah tiba suatu masa di mana manusia akan menemukan rasa kebosanan, dan saya manusia pasti alami itu semua. Dan sempat berpikir menulis itu senang karena dalam keseharian itu mencoba merekam banyak peristiwa apa yang bisa ditangkap oleh jiwa. Menuangkannya pada buku dalam bentuk, puncak kebosanan itu saya rasakan kala menulis bukan hanya menyimpan ide, melainkan menggabungkan paragraf satu ke paragraf lain, memulai dari kata dan menyusunnya, memilih diksi yang mudah dipahami dan semua bisa mengerti. Belajar bahasa lagi dalam bentuk tulis, dan bahkan sering kehilangan inspirasi harus baca buku lagi. Hal itu ditemukan; bahwa menulis seperti merasakan kebosanan kadang kehilangan inspirasi bahkan kala pernah coba menekuni itu semua, kehidupanku berbeda dengan teman-teman yang lain, kadang harus mengasingkan dari keramaian dari kost dan pergi mencari tempat baca paling tenang, lalu menuliskan, dan teman diskusi jarang ada yang l sejalan yang tentunya bisa memberikan masukan dan memujilah tulisan agar ada greget terus dalam belajarnya, hal itu dirasakan kala semua kebosanan bahkan kehilangan inspirasi, dibawa meminum kopi pergi ke tempat ngopi ada inspirasi tapi bukan tentang itu semua yang terjadi dalam diri, hanya perbincangan antara teman mengenai hidup dan fenomena yang ada menjadi objek pembicaraan.

Hal itu ada baiknya juga kala sendiri ketika pulang itu ide yang dibicarakan menjadi objek tulisan. Dalam kesimpulannya menulis tidak semudah yang dipikirkan, ketika sudah membawa kertas kosong dan sudah memulai menulis kertas yang telah terisi penuh tulisan itu akan menjadi apa, dibaca, atau hanya hilang tanpa ada maksud apa-apa tiba-tiba hanya menjadi tumpukan dalam kardus yang semakin tahun ke tahun menjadi lembab dan menguning bersyukur bisa dimakan oleh rayap, kalau hanya terhapus dengan sendirinya tanpa ada yang menyentuh dan membacanya, apa yang telah ku tuliskan.

Dalam kesendirian yang sunyi malam-malam itu pikiranku dihampiri oleh ide. Dan seperti ia berkata; “Banyak kehidupan di luar begitu luas, apa yang dirasakan olehmu tidak pernah dirasakan oleh orang lain ketika itu dituliskan maka akan melahirkan sebuah pengetahuan baru bagi kehidupan orang lain, apakah kamu tidak mau jadi manusia yang berguna bagi kehidupan, menulis memang membosankan tapi harus ada yang menuliskan karena diluar sana masih banyak yang merindukan untuk membaca tulisanmu, tugasmu menulis untuk jangan memikirkan pembaca, persembahkan saja tulisannya untuk keluarga dan anaknya kelak kalau kau gagal jadi penulis, yang bisa hidup dengan karyanya dikenal oleh banyak orang dan tulisannya dibaca oleh ribuan orang, seperti Gabriel Marquez, Borges, Shakespeare, Mislawa, Hemingway, Mo Yan, dan penulis Indonesia seperti Pramoedya At, Hamzah Fansuri, Eka Kurniawan, Chairil Anwar, Mochtar Lubis, Tirto, Laksmi Pamuntjak, dsb. Maka menulis saja dulu” percakapan itu ditutup dengan kata perintah “menulislah dulu”, dan menyimpulkan bukan ketenaran atau kebahagiaan menjadi tujuan menulis tapi bagaimana fungsi manusia bisa dirasa oleh makhluk hidup lainnya, dan keabadian akan hanya ada dan dimiliki manusia yang membaca.

Banyak dari para pakar dan para pemula memimpikan keduanya segera selesai dalam berkarya. Memahami ambisi itu tentunya tidak bisa melepaskan keseriusan komitmen diri; terdapat dalam bentuk Aktivitas dan Rutinitas; kedua tersebut kata yang tertanam dalam diri harus kita semua amini, sebagaimana bisa kita syukuri dalam bentuk hasil yang sekiranya itu bisa maksimal. Manusia tentunya akan bisa memaksimalkan semuanya tapi tidak akan lepas kelemahan dan kelebihan itu ada.

Karya bentuk lain dari hasil pemikiran manusia yang keluar dari akal budi, yang lahir tanpa ada intervensi, hal itu hanya dimiliki kreatifitas diri. Kreativitas dalam proses mencipta merupakan kerja-kerja naluri manusia tanpa intervensi kecuali imajinasi dan walau kadang ilusi untuk bentuk kerja manusiawi mengabdi pada diri sendiri; yang perlu mengasingkan untuk bisa mencipta. Seperti halnya buku yang ada di dalam gabar berjudul ‘Jalan Tak Ada Ujung’ karya Mochtar Lubis. Karya sastra berupa novel itu merupakan hal lain dari kerja-kerja kemanusian yang humanis; adapun pasti selain tentang itu semua yaitu mengenai spiritualis, ensiklopedia, sains, dan humaniora. Semua itu kadang masuk karya yang meliputi karya-karya sastra lebih universal masuk di dalamnya. Praktik-praktik keduanya merupakan sebuah kebebasan yang terpatri dalam diri sebagai bentuk implementasi kerja kemanusiaan, bahkan hanya dituntut bisa tapi kreatif, solutif, dan berimajinatif.

Kedua masuk pada sebuah karya yang begitu mengerikan, tapi juga tidak begitu setiap hasil karya memeng butuh sebuah pengorbanan. Kadang pula kita harus mengasingkan diri dari keramaian, dan bisa dicap kalau individualis. Itulah proses panjang manusia bisa mencipta perlu memaksa, bahkan bisa menderita. Namun sebuah skripsi yang bisa pula karya dari kita khusus biasanya orang-orang akademisi, jika menganggap kalau semua karya ini bentuk dari kerja-kerja beraktivitas, bukan kreativitas; sebab hanya keinginan yang final (the goal of achieving happiness), hal itu kadang menjadi target akhir dan berpikir tujuan sebuah final dari karya.

Kedua karya tersebut merupakan kerja-kerja keabadian; sebab menulis merupakan bukan suatu yang mudah memutarkan kincir angin dan bisa berbaling-baling ditiup angin. Semua perlu namanya ketekunan, kerajinan, konsisten, dan kreatif. Sebagai bentuk karya yang nanti bisa mengabdi, dan diambilkan. Dan nanti bisa dirasa oleh lingkungan, membukakan ruang penderitaan makhluk hidup dengan sebuah karya tersebut, dibuat oleh manusia yang berjiwa besar, melewati batasan-batasan yang transenden.

*)Penulis: Akhmad, mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia (PBSI) FKIP-Unisma Malang, Komunitas Gerilya Literasi Pelangi Sastra Malang

Tulisan asli terbit di times Indonesia edisi 5 Mei 2020.

Translate »