Beribadah yang Tidak Biasa di Tengah Wabah

Beribadah yang Tidak Biasa di Tengah Wabah

Oleh: Mohammad Afifulloh

(KPS Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UNISMA, Pernah Menjabat WD 3 FAI UNISMA)

Tiada terasa bulan Ramadhan 1441 H telah datang di tengah-tengah umat Islam di Indonesia bahkan dunia sedang menghadapi pandemi Covid-19, atau orang lebih mengenalnya dengan istilah Corona. Betapa mengejutkan umat Islam, yang terbiasa menyambut bulan suci dengan berbagai ekspresi kegembiraan dan aktivitas sosial sesuai tradisi di masing-masing tempat, saat ini tradisi-tradisi kearifan lokal tersebut agak redup dikarenakan aturan social distancing.
Awalnya, umat Islam-terutama Jawa-yang memiliki tradisi kumpul-kumpul dengan membaca kalimat-kalimat thoyyibah dan doa bersama (megengan) tiba-tiba sebagian dari mereka tunduk pada aturan menghindari kerumunan alias berkumpul agar tidak terjangkit oleh virus Corona.
Tradisi yang fenomenal di akhir bulan puasa berupa pulang kampung (mudik)pun tidak luput dari pantauan pemerintah. Secara tegas pemerintah melarang tradisi mudik sebagai upaya pencegahan penyebaran virus mematikan tersebut. Seakan ibadah Ramadhan tahun 1441 H./2020 M. tidak biasa dari tahun-tahun sebelumnya, dan memang demikianlah keadaannya. Umat Islam dihadapkan pada situasi ketidaknyaman, yang biasa tarawih berjamaah di masjid dilarang, tadarus di mushollah tidak diperbolehkan, buka bersama dihapuskan, takbir keliling ditiadakan. Terasa semua itu menyesakkan bagi umat Islam karena harus menjalani ibadah di bulan Ramadhan dengan cara yang tidak biasa.

Dampak kebijakan dari karantina, PSBB, bahkan lock down terasa di kehidupan sosial keberagamaan. Lepas dari perdebatan tentang penutupan rumah-rumah ibadah (masjid), umat Islam tetaplah bersikap positif mengahadapi wabah. Ibadah memang utamanya dilakukan di masjid maupun musholla, tetapi perlu dipahami pula bahwa menjaga kesehatan agar ibdah dapat dijalankan dengan sempurna juga bagian dari ibadah itu sendiri.

Bukankah Nabi Muhammad SAW. pernah mengingatkan bahwa dua nikmat yang sering dilupakan adalah kesempatan (keluangan waktu) dan kesehatan. Kesempurnaan beribadah dengan kondisi kesehatan jasmani merupakan impian dan dambaan setiap umat Islam. Dengan sedikit mengurangi intensitas ibadah di rumah Allah SWT. tidaklah dapat dimaknai sebagai penurunan iman seseorang. Pengalihan tempat beribadah dari masjid ke rumah-rumah dapat dipahami sebagai upaya pencegahan penyebaran pandemi yang lebih luas. dapat dibayangkan bila penularan wabah Covid-19 tidak terkendalikan sedangkan tenaga medis terbatas, betapa repot dan kacaunya kehidupan sosial.

Sesuatu yang tidak biasa, tradisi baca Al-Qur’an di masjid/musholla tidak lagi terlihat seperti tahun-tahun sebelumnya. Tarawih yang biasa didapati dengan mudah di berbagai tempat ibadah semakin jarang. Namun di balik itu semua, hikmah yang tersembunyi adalah pembiasaan baca Al-Qur’an di rumah yang mungkin jarang dilakukan oleh sebuah keluarga menjadi kebiasaan baru dan lebih menyejukkan suasana rumah.

Mungkin di rumah belum pernah dilakukan shalat tarawih berjamaah bersama anggota keluarga, namun di tengah wabah ini hal tersebut menjadi kebiasaan baru yang lebih mempererat hubungan emosional sesama anggota keluarga. Mungkin selama ini buka bersama jarang dilakukan di rumah karena kesibukan kerja di kantor sampai malam, pada saat wabah ini merebak menjadikan anggota keluarga melakukan buka bersama dengan keluarga tercinta.

Banyak aktivitas ibadah yang perlu dipilah-pilah untuk tetap dilakukan di rumah. Kebijakan stay at home dan work from home membuat pola kehidupan sosial dan beragama berubah, namun tidak menghilangkan nilai dan makna spiritualitas di dalam setiap amalan ibadah. Sikap waspada dan hati-hati demi terhidar dari virus Covid-19 senantiasa dipegang teguh, dengan salah satu cara tetap tinggal di rumah dan menjalankan ibadah di dalamnya.

Walaupun hal ini secara mutlak tidak berlaku di lingkungan yang masih relatif aman dan tidak ada indikasi gejala merebaknya wabah Corona. Protokol beribadah di masjid-masjid/mushalla pada musim wabah dilakukan sebagai upaya menjaga kesehatan, dan bagi yang ragu terhadap kondisi lingkungan tetap beribadah di rumah saja.

***

*) Penulis: Mohammad Afifulloh, Dosen Fakultas Agama Islam dan KPS. Magister Pendidikan Agama Islam Pascasarjana UNISMA.

Tulisan asli dimuat di times Indonesia edisi Kamis, 23 April 2020 dengan link

https://www.timesindonesia.co.id/read/news/267058/beribadah-yang-tidak-biasa-di-tengah-wabah

Translate »